Merdeka, Merdeka

Mungkin itulah kata-kata yang ramai diteriakkan dua hari yang lalu. Memang benar, dua hari yang lalu adalah tanggal 17 Agustus, tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya, pada tanggal itulah Indonesia mendapatkan sesuatu yang dikatakan sebagai sebuah “Kemerdekaan” dan bebas dari penjajahan. Dua hari yang lalu, 17 Agustus 2010, genap lah 65 tahun kemerdekaan Indonesia itu. Secara sederhana, kemerdekaan artinya sebuah kebebasan dan bisa jadi sebuah kemakmuran yang didapatkan oleh sebuah negara. Kebebasan untuk mengatur administrasi dan birokrasi negaranya sendiri, kemakmuran dan kesejahteraan yang bisa didapatkan oleh para rakyatnya. Itulah sedikit dan sederhana dari definisi sebuah kemerdekaan. Namun, jika melihat keadaan Indonesia sekarang, benarkah Indonesia sudah merdeka? Benarkah keadaan yang sekarang layak disebut sebagai sebuah kemerdekaan? Atau kalaupun sekarang ini diartikan sebuah kemerdekaan, benarkah kemerdekaan yang seperti ini yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan itu sendiri?

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Akhirnya, petualangan menuju air terjun Coban Rais pun dimulai. Setelah seluruh persiapan selesai, kami pun berangkat dengan jumlah pasukan sebanyak 18 orang karena sebagian dari teman-teman MABA maupun panitia ada yang pulang.

Perjalanan menuju Coban Rais ini ternyata tidak semudah yang saya pikirkan. Melewati perkampungan penduduk, jalan yang menanjak tinggi, dan terik matahari senantiasa menemani perjalanan kami dan menghapus rasa dingin yang kami rasakan. Namun, canda tawa, keunikan, dan semangat pun menghiasi perjalanan kami. Menyenangkan sekali, walau terkadang aku sempat mengeluh karena ingin cepat sampai ke tempat tujuan. Berjalan berkilo-kilo meter bersama teman-teman MABA 2010 ini, sambil sesekali berfoto dengan berbagai macam tingkah ekspresi yang berbeda-beda dan lucu juga latar belakang foto yang aneh-aneh. Keakraban sejati terpatri di antara kami, senyuman tulus menghiasi, dan semangat perjuangan demi Islam senantiasa menyelimuti jiwa kami.

Ketika melewati perkampungan, berbagai macam bentuk rumah, corak kehidupan menarik perhatian kami. Banyak sekali ternyata orang-orang Indonesia yang masih murni berpegang pada kebudayaannya, belum ternodai memang oleh budaya dan pemikiran kufur. Namun sayang, Islam pun belum mewarnai mereka. Menjadi tugas kami beserta orang-orang yang sudah mengerti dan paham akan hakikat Islam, tiada kompromi memang dalam berislam jika kita ingin mengatakan bahwa kita berislam secara kaffah.

Baca entri selengkapnya »

MABIT bersama MABA 2010 UB

Posted: Agustus 13, 2010 by Ardiannur Ar-Royya in Uncategorized
Tag:, , , , , ,

Sabtu, 7 Agustus 2010 merupakan hari terakhir dari rangkaian acara orientasi pendidikan masing-masing fakultas di Universitas Brawijaya. Sejak tanggal 4-7 Agustus 2010, para mahasiswa baru angkatan 2010 melalui berbagai macam rangkaian acara orientasi pendidikan. Pada hari Sabtu bisa dikatakan merupakan hari kemerdekaan bagi mereka semua mengingat acara yang sangat melelahkan selama empat hari itu sudah berakhir. Apalagi hingga tanggal 22 Agustus nanti, kampus masih libur. Waktu yang cukup panjang untuk pulang bagi mereka-mereka yang berasal dari luar kota Malang.

Sebelum para MABA 2010 pulang ke daerah mereka masing-masing, saya bersama beberapa orang teman dari angkatan di atas 2010 mengadakan acara tafakur alam ke sebuah objek wisata kota Batu atau mungkin lebih pantas disebut sebagai daerah pegunungan. Minggu, 8 Agustus 2010 setelah shalat ashar kami bersama para rombongan beberapa MABA 2010 kenalan kami berangkat menuju sebuah villa milik seorang ustadz kami di daerah Batu sana. Berangkat menggunakan angkot seraya membawa berbagai macam peralatan terutama pakaian-pakaian hangat karena di sana udaranya sangat dingin.

Baca entri selengkapnya »

Kiat Sukses Ramadhan

Posted: Agustus 9, 2010 by sahabat brawijaya in Uncategorized
Tag:

Keutamaan Ramadhan

Keutamaan bulan Ramadhan ini telah dideskripsikan sendiri oleh Nabi saw dalam khutbah baginda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Huzaimah dalam kitab Shahih-nya. Dalam khutbahnya, baginda menegaskan, bahwa Ramadhan adalah bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (amal shalih) di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan satu kebaikan,
maka nilainya sama dengan mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan lain. Siapa saja yang mengerjakan satu perbuatan wajib, maka nilainya sama dengan mengerjakan tujupuluh kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan juga bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ramadhan juga bulan tolong-menolong (ta’awun), di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin akan bertambah. Siapa saja yang memberikan buka kepada orang yang berpuasa, maka itu akan menjadi maghfirah bagi dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.

Karena itu, meski bulan Ramadhan ini tidak termasuk asyhurul hurum (bulan haram), tetapi bulan ini memiliki keutamaan yang tiada duanya. Di bulan ini, Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an, sebagaimana dituturkan Allah dalam surat al-Baqarah: 185. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. di Gua Hira’ adalah Iqra’, diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan 13 SH (sebelum Hijrah) atau bulan Juli 610 M. Karena itu, bulan ini juga disebut syahr al-Qur’an (bulan al-Qur’an).

Bulan ini juga dijadikan oleh Allah SWT sebagai bulan puasa, dimana ummat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut. Karena itu, bulan ini juga disebut syahru as-shiyam. Allah pun menetapkan puasa dan al-Qur’an sebagai pemberi syafaat pada Hari Kiamat (HR Ahmad, at-Thabrani dan al-Hakim). Tidak hanya itu, malaikat pun akan memintakan ampunan untuk orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka. Dan, Allah pun memberikan ampunan untuk mereka di akhir malam bulan Ramadhan.

Di bulan ini, Allah telah menjadikan salah satu malamnya, sebagai Lailatu al-Qadar, yaitu satu malam yang nilainya lebih baik dibanding seribu bulan (Q.s. al-Qadar [97]: 1-5), tentu jika digunakan untuk melakukan amal shalih, seperti shalat, membaca al-Qur’an, dzikir dan Baca entri selengkapnya »

TPM: Penangkapan Ba’asyir untuk Alihkan Isu

Posted: Agustus 9, 2010 by sahabat brawijaya in Uncategorized
Tag:

JAKARTA-Ketua Umum Tim Pengacara Muslim (TPM), Mahendradatta, menegaskan bahwa kasus dugaan terorisme yang berujung pada penangkapan Ustad Abu Bakar Ba’asyir adalah upaya pihak kepolisian untuk mengalihkan isu.

”Kami sudah merasa bahwa penangkapan ini akan terjadi. Karena pihak kepolisian kan sekarang tengah didera berbagai masalah dan menjadi sorotan masyarakat. Nah, untuk itu mereka harus mencari masalah baru yang bisa mengalihkan perhatian publik,” ujar Mahendradatta dalam perbincangan dengan Republika, Senin (9/8).

Isu terorisme adalah satu-satunya isu yang bisa digunakan, karena selama ini kasus terorisme tidak pernah ada opini pembanding. Semua isu, kata Mahendradatta, bersumber dari pihak kepolisian atau Densus 88. ”Bahkan sejumlah saksi untuk kasus terorisme, ditekan oleh kepolisian untuk tidak memilih pengacara lain selain pengacara dari pihak mereka sendiri,” jelasnya. Sehingga, menurutnya, selama ini semua isu-isu bersumber sepihak saja, yaitu dari pihak kepolisian sendiri.

Mahendradatta juga menilai tudingan polisi terhada Ba’asyir sangatlah mengada-ada. ”Tuduhannya tidak masuk akal. Dikatakan sebagai master mind dan pendanaan latihan teroris di Aceh. Ustad Ba’asyir sama sekali tidak punya pengalaman militer. Tudingan ini sangat aneh dan sangat mengada-ada,” ucapnya.

Saat ini menurut Mahendradatta, TPM juga belum bisa mendampingi Ba’asyir. ‘Tapi kami sedang berupaya untuk bisa mendampingi Ustad Ba’asyir,” tegasnya. (republika.co.id, 9/8/2010)

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/

Ba’asyir Ditangkap, SBY-JK Kenapa Tidak?

Posted: Agustus 9, 2010 by sahabat brawijaya in Uncategorized

Senin 9 Agustus 2010 siang ada berita Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) ditangkap oleh Polri.  Menurut Edward Aritonang, Jubir Polri, Ustadz ABB ditangkap karena diduga (dengan catatan tebal baru diduga) terkait dengan pelatihan militer di Aceh dan banyaknya anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang ikut pelatihan tersebut. Dan Ustadz ABB pun langsung ditangkap di Banjar, Jawa Barat. Sebelumnya sudah ditangkap 106 orang yang terlibat pelatihan militer di Aceh yang (kata Polri) mau melakukan serangan ke Mabes Polri, beberapa Kedubes Negara Asing, dan (kata Polri) mereka menjadikan SBY sebagai target serangan.

Senin 9 Agustus 2010 pagi, salah satu TV Swasta menyiarkan berita Tabung Gas 12 kg milik Julia Peres (Jupe) meledak. Pembantunya terluka bakar. Ledakan ini adalah ledakan yang keseratus sekian kalinya. Sesuai data yang saya dapatkan sudah lebih dari 190 ledakan sejak 2008 hingga kini. Tapi belum ada satu pun yang ditahan. Padahal ledakan hampir setiap hari terjadi. Ancaman bom elpiji pun hingga kini masih menghantui masyarakat. Sebagian masyarakat bahkan menyebut tabung gas 3 kg sebagai bom dapur dari pemerintah. Pihak yang bersalah –dan bertanggung jawab atas tewasnya puluhan rakyat dan ratusan korban luka-luka– pun sudah jelas di depan mata. Mereka  (dengan catatan tebal bukan dugaan) adalah Pertamina, Kementrian ESDM, hingga SBY dan JK yang menjadi pendukung utama konversi penggunaan energi ini. Proyek ini memang mampu menghemat energi secara signifikan. Tapi pelaksanaannya amburadul dan sudah memakan korban jiwa, korban luka, korban trauma, dan puluhan rumah hancur. Sekali lagi, belum ada satupun yang ditahan.

Senin 9 Agustus 2010 sore, saya  berdoa kepada Allah. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Engkaulah yang Maha Adil, adililah mereka yang berlaku tidak adil, sekehendakMu ya Allah. Timpakanlah bencana kepada orang-orang yang membawa bencana untuk rakyatnya. Ya Allah Engkaulah yang Maha Rahman yang Maha Rahim,  datangkanlah kepada kami pemimpin pengganti yang adil. Yang mencintai rakyatnya dan rakyatpun mencintainya, yang akan menegakkan hukum-hukumMu ya Allah. Yaa Mujiibas saa`iliin. Amin.

[Umar Abdullah]

Sumber: http://mediaislamnet.com/

Menggugat Paham Relativisme Tafsir

Posted: Agustus 6, 2010 by sahabat brawijaya in Uncategorized
Tag:

Di sebagian kalangan cendikiawan muslim saat ini telah berkembang paham relativisme tafsir. Suatu paham yang menafikan adanya kebenaran mutlak. Kebenaran yang ada semuanya relatif, bisa jadi benar suatu waktu namun bisa salah pada waktu yang lain. Kebenaran mutlak yang diyakini oleh penganut paham ini hanyalah milik Tuhan yang sama sekali tidak mampu dijangkau oleh akal manusia. Jadi sebenarnya tidak ada kebenaran mutlak yang lahir dari akal manusia. Termasuk pemahaman manusia ketika memahami nash (teks) sangat relatif tergantung si penafsir.

Pemahaman semacam ini sengaja dipopulerkan oleh kalangan Islam Liberal agar kaum muslimin keluar dari pakem yang sudah ada. Mereka menyebut orang-orang yang masih berpegang pada metode tafsir yang telah dirumuskan oleh generasi terdahulu sebagai kalangan anti-pembaruan. Akibatnya mereka banyak mencela para ulama terdahulu semacam Imam asy-Syafi’I yang telah berjasa meletakkan kaidah Ushul Fiqh atau Ibnu Katsir yang merumuskan metode tafsir yang telah dipakai berabad-abad oleh umat Islam.

Menurut pemahaman ini tidak ada kebenaran yang bisa diterima oleh semua pihak. Karena segala sesuatu yang lahir dari akal semuanya relatif, sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan zaman. Oleh sebab itu, hukum pun akan berubah seiring dengan berubahnya zaman dan tempat, ini karena hukum dipandang sebagai produk akal dan budaya. Tidak ada juga keyakinan yang satu yang diyakini oleh semua pihak, karena semua orang dianggap bebas untuk menafsirkan segala sesuatu termasuk teks Al-Qur’an. Maka kebenaran yang lahir akan berbeda tergantung siapa yang menafsirkan. Mereka berpendapat siapa pun orangnya jika masih pada level manusia tentu kebenaran yang dihasilkan sangat relatif dan terbatas, ‘parsial-kontekstual’ pemahamannya, dan bisa saja keliru.1

Ketika memahami atau pun menafsirkan al-Qur’an yang paling penting menurut paham ini adalah konteksnya, dan bukannya teks. Teks bisa dipahami jika konteksnya dipahami dengan tepat. Sekaligus menjadikan realitas sosial–historis di atas teks, atau mendahulukan Baca entri selengkapnya »